Review Film Tausiyah Cinta, Jangan Merasa Terlalu Sholeh Untuk Diuji

Baru pulang dari melihat film Tausiyah Cinta, sebuah film yang belakangan saya nantikan setelah mengikuti update informasinya melaluiu berbagai macam channel socila media. Terutama adalah Instagram @tausiyahku.

Film bernuansa islami ini memang agak sedikit berbeda mungkin dari kebanyakan film, karena dari awal pembuatannya sudah diniatkan sebagai ladang dakwah. Secara konten dan garis besar pesan moral yang saya ambil sebenarnya bagus, namun ada banyak kurangnya juga di sana – sini.

Alur cerita Tusiyah Cinta

Di awal cerita, penonton langsung dibawa terjun dalam perdebatan sengin antara Lefan dengan kakaknya Elfa. Perdebatan terjadi karena Elfa menginginkan Lefan untuk lebih available bagi keluarga.

Lefan justru merasa tidak terima dengan permintaan tersebut, justru menilai kakaknya yang kurang peduli dengan keluarga. Dengan banyaknya aktifitas dakwah yang dilakukannya, Elfa justru membiarkan keluarganya sendiri tidak tersentuh dakwah, seakan tidak perduli kalau nanti keluarganya akan ada dalam neraka sementara ia terlalu sibuk mendakwahi orang lain.

Lefan berkata dengan kasar mengenai hal itu, mengingat rumah tangga kedua orang tuanya yang terpecah, bahkan hingga kematian ibunya. Sakit dengan perkataan Lefan, Elfa jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia juga.

Di bagian cerita lainnya, adalah Rein, seorang mahasiswa yang memiliki gagasan mendaur ulang air wudhu agar bisa dipergunakan lagi. Pengerjaan proyek ini mempertemukan Lefan yang berkerja sebagai konseptor dengan Azka, seorang yang memiliki pemahaman agama dan ketaatan yang bagus, yang merupakan seorang arsitek.

Lefan dan Azka pun menjadi akrab, hingga banyak bertukar pikiran. Lefan bercerita tentang ibunya yang sholehah dan baik. Namun ujian begitu beratnya hingga akhir hayatnya. Teentang Elfa yang sholehah, namun pesona sholehahnya tak menyentuh keluarganya sendiri, termasuk Lefan.

Azka mengungkapkan bahwa semua kegundahan Lefan, perasannya yang merasa bosan dengan sesama manusia, mungkin adalah pertanda kalau Allah hendak membukakan hatinya.

Tak berselang lama setelah curhat mereka malam itu, giliran Azka yang diuji dengan kecelakaan yang menimpanya di tempat proyeknya, matanya terkena pecahan kaca hingga buta. Sementara di Surabaya ibunya terjatuh saat hendak sholat hingga koma.

Kabar itu dirahasaikan teman – temannya, meski ada salah satu rekan kerja yang berperangai buruk justru memberi tahu Azka saat baru sadar dan berusaha menelan kenyataan pahit kebutaan yang dideritanya. Azka merasa terpukul, pulang ke Surabaya dan meminta Rafi temannya untuk mengurus surat resignnya karena merasa tak bisa lagi menjalankan tugasnya.

Kegundahan Lefan makin menjadi, kemudian ia putuskan untuk melamar Rein, karena merasa tertarik dengannya saat pertemuan membahas proyeknya. Disamping terdorong pesan teman lamanya sebelum malam perbincangannya dengan Azka.

Tausiyah Cinta, Lefan Melamar Rein

Dalam kegundahan dan keputus asaan, Azka mendapat kunjungan dari Lefan yang jauh – jauh mengunjunginya di rumahkedua orang tuanya di Surabaya. Lefan tetap mendorong Azka untuk menjadi Azka yang dulu, kuat keyakinannya dan selalu berprasangka baik padaNya.

Dalam perbincangannya dengan Fatih, temannya Azka juga banyak diberi motivasi dan dorongan. Salah satu pesan yang begitu lekat saya ingat adalah bahwasanya ujian yang dialaminya bisa saja karia Allah memiliki rencana yang lebih baik.

Lebih simplenya, menurut saya adalah “Jangan merasa terlalu alim dan taat padaNya, sehingga Allah tidak akan menguji dirimu

Lalu, bagimana dengan lamaran Azka kepada Rein, apakah Rein akan menerimanya? Apa pula maksud kata – kata Rein “Cinta itu dibangun, bukan dicari”?

Kalau ingin tahu, mungkin kamu perlu meluangkan waktu untuk menonton film Tausiyah Cinta ini langsung saja 😀

Penilaian Saya tentang Tausiyah Cinta

Kalau menurut saya sih, alur ceritanya sudah lumayan sih, walau ada juga beberapa kekurangan, seperti beberapa adegan yang terasa ‘kurang klik’ atau juga cara mengambil gambar yang terasa kurang bagus. Menurut saya, Serial Cinta Subuh lebih bagus pengambilan angle saat syuting dan juga kualitas editingnya.

Tausiyah Cinta Film Menghafal Al Quran?

Salah satu daya tarik film ini sebelumnya adalah tentang kabar kalau dalam film ini semua pemainnya benar – benar bagus mengajinya dan banyak menyajikan bacaan Al Quran dan menjadikan penontonnya semangat untuk mengaji dan menghafal Quran, benarkah hal ini?

Banyak mengajinya mungkin iya, dan memang para pemain dalam membaca Al Quran-nya dengan bacaan yang bagus. Dalam satu scene bahkan ada beberapa pemuda dalam measjid yang sahut – menyahut menyambung bacaan satu dan lainnya sebanyak lebih dari 5 ayat, dari ingatan mereka, awesome!

Namun saya rasakan masih kurang pesan dan ajakan untuk membaca atau menghafal Quran ini. Tidak saya temukan sebuah adegan yang menekankan urgensi dari banyak mengaji dan menghafal Quran.

Tausiyah Cinta Recommended?

Lepas dari beberapa kekurangan, film ini memiliki beberapa hal bagus yang jarang kita temui dari film lainnya. Kegigihan dan kesabaran dalam ujian, yang mana setiap orang pasti diuji. Banyak bacaan Quran yang penting untuk direnungkan, film dengan tampilan pemain yang syar’i dan tanpa sentuh – sentuh bukan muhrim (hanya Azka dan Ibunya yang saya lihat bersentuhan, semoga ibunya beneran). Contoh perbuatan ikhlas dalam tolong menolong yang akhirnya mendapat balasan kebaikan.

Alur ceritanya juga sebenarnya ringan, dengan ending yang diluar prediksi, sama dengan kehidupan nyata, takdirNya yang kadang membuat kita terheran – heran.

Overall, recomended, dengan pengecualian kalau kamu berharap cerita asmara yang ‘linear’.

Penasaran? Ya silahkan tonton Tausiyah Cinta di bioskop terdekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *